Assalamu'alaikum teman-teman
Saya Sri Ayu Melati
Nim 201635378
Akan membahas PSAK 68 mengenai Hierarki Nilai Wajar
Semoga bermanfaat :)
Hierarki
Nilai Wajar
Hierarki
nilai wajar dimana bagian/sub dalam PSAK 68 tentang Pengukuran Nilai Wajar.
Dalam PSAK ini berusaha meningkatkan konsistensi dan keterbandingan dalam
pengukuran nilai wajar dan pengungkapan yang terkait. Hierarki nilai wajar
mengategorikan input teknik penilaian yang digunakan dalam mengukur nilai
wajar. Input adalah asumsi yang digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga
aset atau liabilitas. Input tersebut ada yang dapat diobservasi dan input tidat
dapat diobservasi.
Input yang dapat diobservasi:
adalah input yang dikembangkan menggunakan data pasar, seperti informasi yang
tersedia untuk publik mengenai transaksi aktual, misalnya harga dibursa saham
yang dapat diamati setiap saat oleh pelaku pasar.
Input yang tidak dapat diobservasi:
adalah
input ketika data pasar tidak tersedia dan yang dikembangkan dengan menggunakan
informasi terbaik yang tersedia mengenai asumsi yang akan digunakan pelaku
pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas.
Dalam hal ini, tidak semua barang
mempunyai informasi harga pasar. Prioritas tertinggi dari hierarki pengukuran
nilai wajar adalah harga kuotasi dalam pasar aktif untuk aset atau liabilitas
dan prioritas terendah adalah input yang tidak dapat diobservasi. Input
tersebut dikategorikan menjadi 3 level hierarki nilai wajar, yaitu:
- Input level 1, yaitu harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran. Harga kuotasi di pasar aktif memberikan bukti yang paling andal terkait nilai wajar dan digunakan tanpa penyesuaian. Dan yang dimaksud pasar aktif adalah pasar dimana transaksi atas aset atau liabilitas terjadi dengan frekuensi dan volume yang memadai untuk menyediakan informasi penentuan harga secara berkelanjutan. Misalnya, harga saham perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
- Input level 2, yaitu input selain harga kuotasian yang termasuk dalam level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung atau tidak langsung. Input level 2 mencakup: Harga kuotasian untuk aset dan liabilitas yang serupa di pasar aktif, harga kuotasian untuk aset dan liabilitas yang identik atau yang serupa di pasar yang tidak aktif, dan input selain dari harga kuotasian yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, misalnya suku bunga dan kurva imbal hasil yang dapat diobservasi atau credit spread.
- Input level 3, yaitu input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas. Input yang tidak dapat diobservasi digunakan untuk mengukur nilai wajar, sejauh input yangdapat diobservasi yang relevan tersedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar